Hari ini, hari jumat pertama. Pagi aku tidak ada pelayanan misa, soale misa sore hari digabung dengan jalan salib. Hari ini, aku bisa bangun agak siang dikit. Tentu saja tidak lupa berdoa. Setelah berdoa, aku langsung tengok tanaman and merhatiin taman belakang pastoran. Di taman belakang pastoran yang kira-kira satu bulan yang lalu aku bersihin aku pangkas menjadi keliatan bersih. Bonggol-bonggol yang keliatan jelek aku tutup plastic. Belum lagi beberapa hari setelah aku bersihin ada 10 pot bunga baru yang dikirim dari umat untuk tanda kehidupan baru di Pastoran. Maklum mungkin tahun-tahun lalu taman tidak terurus, tumbuhan tidak pernah dipangkas. Atau mungkin tidak ada keberanian untuk memangkasnya menjadi baru. Semuanya serba semrawut (amburadul) keliatan kumuh. Wuihhh aku datang pertama rimbun banget kayak hutan yang tidak terawat. Akhirnya aku beranikan diri untuk memangkas tumbuh-tumbuhan disekitar taman supaya menjadi lumayan bersih. Yahh hari ini aku udah di tempat baru kira-kira satu bulan lebih. Luar biasa di pagi yang indah hari ini, aku perhatiin tumbuh-tumbuhan di taman ada begitu banyak tunas-tunas kehidupan baru. Aku yakin ketika ada tunas, menjadi tanda ada pertumbuhan dan kehidupan baru. Dan memang benar tumbuh-tumbuhan yang pernah aku pangkas muncul sesuatu yang baru, betapa indah, hijau dan segar.
Nampaknya sepele/ simple banget dechh. Ketika aku memperhatikan, menyiram dan merawat tanaman itu, aku sempat merenung :
Pertama, bisa jadi hidupku bagaikan tumbuh-tumbuhan di taman, yang mungkin ada saatnya tidak terawat, ada saatnya rusak, ada saatnya kumuh, ada saatnya dibiarkan tumbuh begitu saja, etc. Sehingga aku tidak berani untuk memangkasnya menjadi sesuatu yang baru. Karena kita tidak berani memangkas kehidupan kita yang lama, untuk tumbuh menjadi baru, hijau dan segar.
Kedua, kehidupan baru diawali dengan tunas-tunas yang kecil. Tunas itu nampaknya kecil tetapi menjadi tanda pertumbuhan dan kehidupan. Iya selama ini aku beragama, selama ini aku beriman, selama ini rajin berdoa. Beranikah aku dalam setiap kehidupan memangkas kehidupan lama menjadi baru agar tumbuh tunas-tunas baru yang membawa kesegaran harapan baru? Semangat baru? Cara pandang, cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak yang baru? Etc…etc…
Terima kasih Tuhan, Engkau telah menumbuhkan tunas yang baru lebih hijau dan segar. Jadikanlah kami dengan iman yang kami memiliki untuk berani memangkas kehidupan lama menjadi kehidupan baru. Kehidupan yang semakin bertumbuh subur, hijau nan indah dan segar. Tuhan jadikanlah aku, teman-temanku, dan siapa saja yang mau bertumbuh dalam kehidupan baru, rahmat dan anugerahMu. Amin.
Pagi ini, aku pulang dari pelayanan Misa di Susteran tidak langsung pulang ke Pastoran. Aku langsung pergi ke Pantai Pasuruan. Dipantai inilah, aku menjumpai para nelayan pulang dari melaut. Setelah semalam mereka berjuang dalam pekerjaan yang tentu saja penih resiko. Tetapi tohh mereka siap dan berani menghadapi setiap resiko apapun. Badai dan nasib tetap dihadapi dengan optimis.
Wuihhh luar bisa, aku perhatikan setelah mereka mendarat bergembira disambut keluarga yang berharap akan hasil kerjaannya. Hebattt….kegembiraan membuat mereka tidak langsung ongkang-ongkang (nganggur), justru mereka masih bekerja dan berusaha lagi bekerja memilah-milah (memisahkan) ikan yang baik dan yang jelek hasil dari melaut. Ada aneka macam ikan yang tertangkap. Ada yang baik tetapi juga ada yang tidak baik. Wowww ternyata hasil tangkapannya ada juga sesuatu yang tidak baik sesuai dengan apa yang menjadi harapan.
Aku pagi ini belajar bagaimana orang berhadapan dengan kehidupan:
Pertama, ketika orang berhadapan dengan resiko atas kehidupan apapun, orang harus berani untuk menghadapinya bukan menghindarinya. Bahkan saat-saat belum tahu hasilnya seperti apa. Must go on……
Kedua, buah-buah hasil kehidupan setiap saat perlu untuk dipilah-pilah (dipisahkan) mana yang tidak baik dan mana yang baik. Yahh mungkin bahasa kerennya “discernment” (pembedaan roh). Hanya orang yang berani memilah-milah yang baik dan yang tidak baik akan menjadikan hidup semakin dinamis. Menjadikan hidup lebih hidup, tidak sekedar hidup-hidupan, tetapi sungguh-sungguh hidup.
Ketiga, etos kerja membuat semangat kehidupan. Suasana batin yang selalu mengatakan malas ahhh…nggak enakk…bosan……sakit nichh…etc. Justru membuat orang tidak optimis. Maka ubahlah dengan sesuatu yang positif. Aku bisa….aku enjoy….aku happy…aku semangat…etc disitulah aku menemukan etos kerja penuh semangat. Melayani penuh semangat dan gembira dech……..
Terima kasih Tuhan, hari ini aku boleh belajar dari para nelayan. Berkati mereka semua dalam hidup karya pekerjaan mereka. Berkati keluarga, sahabat, teman-teman juga umatMu dalam pekerjaan mereka hari ini. Semuanya hanya demi kemuliaan namaMu. Amin
Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam, sekaligus kita menutup Tahun Liturgi A dan akan masuk ke Tahun Liturgi B dengan diawali masa Adventus. Dalam perayaan ini, kita diingatkan kembali bahwa Yesus sendiri sangat mencintai semesta alam dan segala isinya, termasuk di dalamnya manusia yang diciptakan secara istimewa (Bdk. Mazmur 8). Yesus Kristus Raja Semesta Alam menjadi pembimbing dan pengarah dalam keseluruhan hidup umat beriman. Hal inilah yang setiap saat, setiap waktu direnungkan gereja dalam seluruh rangkaian Tahun Liturgi Katolik. KecintaanNya itu diwujudnyatakan dalam hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan,dimana Yesus sungguh menjadi Raja atas maut dan atas semua ciptaan Bapa-Nya dalam alam semesta ini.
Belajar dari pengalaman….
Dalam sebuah buku yang berjudul “Managing Change in Schools”, karangan P.Whitaker dikisahkan sebagai berikut:
“Tahun lalu saya (Tony Watkins) memperoleh kesempatan untuk olah raga’arung jeram’ di sungai Motu dua kali. Sungai Motu merupakan sungai yang ganas di North Land; perjalanan dari hulu ke hilir membutuhkan waktu empat hari lamanya. Perjalanan dipimpin oleh seorang bernama “Kiwi”, orangnya berpengalaman dan lembut dalam tutur kata. Kami merasa suaranya ajakannya tak akan dapat mengalahkan suara gaduh riam-riam sungai Motu. Apa mungkin dia memimpin kami? Kami diminta mulai mendayung, riam pertama sudah di depan mata dan ia tidak mengeluarkan suara apa-apa. Ia tidak memberi komando kepada kami maupun kepada sungai. Dengan ramah dan tenang ia nampak merasakan suasana ‘hati’ sungai dan menikmati setiap pusaran air. Tidak ada ‘drama’ yang menggetarkan dengan teriakan. Tidak ada pertandingan untuk dimenangkan. Ia mencintai sungai. Kami melintasi setiap riam dengan damai dan keindahan, dan setelah satu hari sungai menjadi sahabat kami, bukan ‘musuh yang harus dikalahkan’. Kiwi yang tenang bukan pemimpin kami, tetapi hanya seorang pribadi yang peka terhadap apa yang terjadi, dan terungkap dalam tawa-ria menggantikan ketegangan untuk berprestasi. Kiwi yang lembut mempercayai dan membiarkan kami semua masing-masing ‘berbalik’ menjadi pemimpin. Satu anggukan lembut dari Kiwi cukup bagi kami untuk menghadapi apa yang ada di depan. Jika kami membuat kesalahan, ia menertawakannya. Kami mulai ‘menembus’ sungai Motu. Sekarang, seperti Kiwi yang lembut, kami juga mendengarkan sungai dan melihat dengan hati-hati yang terjadi: semua yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada akhir perjalanan kami tidak mengatasi apa-apa, kecuali diri kita sendiri. Kami tidak meninggalkan sungai sahabat kami. Tidak ada pertandingan, tidak ada sesuatu yang harus dimenangkan. Lebih dari itu kami sungguh menjadi satu dengan sungai. Dalam peziarahan, baik selama perjalanan maupun pada akhirnya, kami sungguh berada dalam damai dan keindahan; dan yang tak kalah penting kami menjadi satu dengan sungai serta mencintainya”.
Yesus Raja semesta Alam seorang pemimpin….
Dari kisah ini, kita dapat memahami dan memaknai bahwa Yesus adalah “Raja Semesta Alam”. “Kiwi” sebagai pemimpin sangat mengasihi mereka yang ia pimpin maupun sungai atau alam yang harus mereka arungi atau lalui, sehingga yang dipimpin pun saling mengasihi serta mengasihi dan menikmati alam yang indah; sungai dengan arusnya. Bisa jadi ‘Kiwi’ boleh dikatakan meneladan Yesus, Raja Semesta Alam. Yesus menjadi Raja semesta alam, bukan beerarti tanpa resiko dan salib. Justru Yesus berani menghadapi dan menjalani resiko dalam salib. Yesus dalam puncak penderitaanNya, di kayu salib menunjukkan kasih pengampunanNya kepada penjahat yang bertobat, dan ketika Ia wafat di kayu salib, alampun ikut berduka alias simpati kepadaNya, “hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua” (Luk23:44-45) YesusKristus Raja Semesta Alam, tidak duduk di kursi empuk, ruang ber-AC dengan berbagai fasiltas; melainkan Yesus berada di ketinggian di alam terbuka, tergantung di kayu salib. Dalam ketinggian bumi inilah Ia menyerahkan Diri sepenuhnya kepada dunia dan Bapa yang mengutusNya. Dan dengan demikian Ia menjadi pengantara ‘dunia’ dan ‘sorga’, pengatara umat manusia dengan Allah. Ia menyalurkan rahmat kehidupan Allah sendiri kepada dunia dan umat manusia baik dalam doa, keluh kesah serta harapan.
Dalam peristiwa hari Raya “Yesus Kristus, Raja Semesta Alam”, kita diundang dan diingatkan bahwa kita yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk menjadi ‘penyalur’ rahmat yakni penyalur rahmat Allah kepada dunia alam semesta, sesama maupun dambaan, segala harapan kepada Allah. Kita sebagai penyalur mestinya kita harus jujur, disiplin, setia, tidak mengeluh dan menggerutu meskipun ada saatnya harus menderita. Seorang pemimpin yang dijiwai semangat Yesus adalah seorang yang dalam tugas perutusan, pekerjaan atau kesibukan apapun kita senantiasa siap sedia untuk menjadi penyalur rahmat dan berkat Allah, yakni penyalur kebaikan dan kasih pengampunan kepada sesama kita di manapun dan kapanpun juga. Dengan demikian kita mampu juga mencintai semesta alam dengan segala isinya, termasuk di dalamnya kita semakin mencintai lingkungan hidup. Siapapun bisa dipilihnya menjadi pemimpin yang mencintai.
Panggilan menjadi Pemimpin dan penyalur Rahmat Allah….
Umat beriman diundang untuk selalu meneladan Kristus Raja semesta alam sebagai pemimpin sekaligus penyalur rahmat Allah yang mencinta. Sangat menarik juga apa yang dituliskan dalam sebuah buku: “Menjadi pemimpin Efektif” karangan Dr. Thomas Gordon, PT Gramedia, Jakarta 1995, hal. 2, sebagai berikut:
"Dalam masyarakat kita yang dalam kenyataannya sering terlupakan, banyak orang entah terpaksa atau tidak harus menduduki posisi sebagai pemimpin sebuah kelompok. Mereka yang menjadi orangtua adalah pemimpin bagi anak-anak mereka. Guru pun, adalah seorang pemimpin bagi murid-murid mereka. Tiap orang adalah seorang pemimpin ketika ia dipilih untuk mengepalai sebuah komite atau sebuah satuan tugas, ketika dipilih sebagai ketua organisasi kemasyarakatan, demikian pula bila ia seorang pembina pramuka atau pembina suatu acara perkemahan”.
Dari apa yang dituliskan diatas, kalau boleh saya merenungkan “siapapun bisa dipilihnya menjadi pemimpin yang mencintai”. Kita sebagai umat beriman telah dipilihnya untuk meneladan hidup Yesus yakni menjadi pemimpin; raja alam semesta yang mencinta. Kita sebagai umat beriman sesuai dengan anugerah dan karisma masing-masing harus berani mempimpin diri kita sendiri, keluarga, lingkungan, rekan kerja, dsb. dengan tetap dalam suasana hati yang mencinta. Bagaimana dengan kehidupan kita? Sudahkah dalam panggilan kita; entah menjadi imam, suster, DPP, orang tua, dokter, pemimpin perusahaan, karyawan, dsb. kita menjadi pemimpin sekaligus penyalur rahmat Allah yang mencinta?Semoga.
Dominus Vobiscum.
(Sumber: @d@m Soen, Pr. dalam Buletin Nuansa Kasih, Paroki St. Albertus de Trapani, Minggu 23 November 2009)
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap. Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri yg baik memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri berbakti tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri lain pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena suami tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari berkat. Sebab selain niat ikhlas karena Tuhan, tak ada artinya apa yang kita lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Tuhan. Kini, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita pada Malaikat Surga untuk mengampuni kita.
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Sesudahnya, kembalilah ke doamu. Marilah kita ingat kembali ketika pertama kali janji nikah diucapkan. Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Tuhan. Kelak kita harus melaporkan kepada Tuhan bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.
Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.
Sumber kiriman dari temen yang tengah berjuang bersama isterinya
Aku akan meng-CREDIT cintaku padamu, bila kamu men-DEBIT untukku cintamu. Aku akan mencatat asmara kita dalam sebuah JOURNAL, dan mem-POST-ingnya ke dalam NERACA hatiku. Aku akan menjaga sebuah ACCOUNT cintamu, berdasarkan DOUBLE-ENTRY. Dengan cara ini kamu akan tahu BALANCE credit atau debit, dan AMOUNT dari cintaku padamu. Kemesraan kita tercatat dalam WORKSHEET. Kadang perlu kita lakukan ADJUSTING ENTRIES untuk menjaga cinta kita tetap kokoh. TRIAL BALANCE memperlihatkan bahwa kita serius satu sama lain, sebab Total dari cinta kita ternyata satu dan sama. Maka kita lakukan CLOSING ENTRIES saat kita setuju untuk menikah. PROFIT & LOSS statement, menyatakan apa yang telah terjadi kemudian, mari bersama-2 kita lihat BALANCE SHEET kita, apa saja ASSETS & LIABILITIES kita ?????
Ya ampun..... sudah selusin anak rupanya.... Habis lupa di AUDIT sih....
The tension between religious groups in Indonesia had started far before the making of Indonesia. It is textured to the history of the country. Gowever, in the process of the making of Indonesia, a new religiosity emerged culturally from the concept of Indonesian weltanschauung called the Pancasila. This religiosity is a product of a socio-historical dynamics of the people of Indonesia with their cultural diversity. This religiosity proven to be able to serve the basic demand of every human being, i.e. to be treated equally and humanely. This Pancasila includes not just the believers, those who embrace certain religions. It includes also the non-believers, those who do not embrace certain religion, but being able to live with their ways of life, which is not necessarily religious. This is an inclusive-transformative religiosity.
This is religiosity has created a new civilization called Indonesian civilization, which allowed the minority including female to be treated equally. Compared to the civilizations of world’s great religions, Indonesian civilization is unique. However, the significance of this civilization is neglected by the Indonesians leaders as of today by practicing discrimination to their own people. Henceforth, he hope for Indonesia in rhis perspective of inter-religious tension is no other than going back to the fundamentals of being Indonesia, i.e. back to the 1945 Constitution agreed upon by the founders of the nation on August 18, 1945.
(1) Indonesia is a country formed out of a long history of meeting between world religions and their political forms of kingdoms and sultanates. These include Hinduism, Buddhism, Islam, and Christianity. The arrival of these religions did not necessarily altered the indigenous believes of the people but textured into it. This is apparently manifested when the people managed to form a new nation out of their long history into an independent nation state in 1945.
(2) Since its proclamation in 1945 and recognition by the international communities in 1949, the Republic of Indonesia had introduced a model of religious tolerance that is unique. This model allows religious pluralism to grow freely. In a country founded after the World War II, Indonesia is indeed a new phenomenon. Before the proclamation of independence in 1945, there were different independent nations with their various identities trying to deal with the peoples from other parts of the world, especially from Europe. There and was no Indonesia. The proclamation of Indonesian independence in 1945, marked the beginning of a new nation in the world named Indonesia. It is within this background that the model of religious tolerance is unique. It has no match theoretically in the context of church-state relationships. Being aware that this new nation has to practice justice to all of its citizens, regardless of his/her religious, ethnic and cultural backgrounds, the founders of the nation wanted religious freedom to be the foundation of this new nation.
(3) However, after different stages of its history, the model seems to be ignored. The leaders of the country seem to ignore a good intention of the founders of the nation. Consequently, a kind of religious discrimination had been practiced by the state. There are schools for certain religious group that got full financial support by the state from the primary level to the university levels, while that is not the case with people with other religious groups.
(4) This happened not because the model failed to serve the nation. It is a matter of education that failed to implement the great ideals of the founders of the nation. Consequently, the country had lost the foundation of its existence.
(5) I will argue that the model is uniquely Indonesian amongst Asian countries, and has its universal significance. Hence, it is worth to be developed.
(6) M. M. Thomas from India in his presentation to the Christian Conference of Asia (CCA) seminar of secularization in Asia in 1996 in Manila described that there are four models developed by Asian countries in dealing with secularization.[1]
1. Secularistic State:
This is a state where religion is prohibited and not supposed to exist. Religions is not recognized officially by the state. Religion has no role in public sphere. People’s Republic of China during cultural revolution practiced this model. Possibly, North Korea too.
2. Secular State:
This is a state where religions are allowed to exist and are recognized officially. However, religions should not be mixed with political life. A strong church-state separation have to be developed. India practiced this model. Possibly, South Korea, Japan, Thailand, Myanmar, etc.
3. Religious State:
This is a state where one particular religion is recognized as the official religion of the state. The state runs under the guidance of this official religion. The state supports this official religion. Others are discriminated. Pakistan practices this model. Possibly, the Philippines too.
4. The Pancasila State:
This a state where religions and ways of life are allowed to exist. Religions and ways of life are recognized by the state. Religions and ways of life are allowed to mix with political life. Indonesia is the country where the model is practiced.
(7) The models that Thomas developed signifies the role of religion in its relation to state. This is a classical issue. However, Indonesia managed to develop a model that is unique, since it included ways of live as well. The question then is, how did it happen? Why did ways of live so important that they should be considered?
(8) In order to understand this, a socio-historical analysis on the process of the making of Indonesia is helpful. This is a process where an analysis on the history of the nation should include the sociological dynamics.
(9) Sociologically speaking, Indonesia is a reality with two identities. The first is primordial. This is an identity before Indonesia was created. This is an identity that they carry with them when they were born. This includes their customs, culture, and religions. In this identity, there are the Javanese, Acehnese, Minangkabau, Batakers, Balinese, Timorese, Molluccans, etc. Various primordial identities created Indonesian pluralism.
(10) However, on top of their primordial identities, they managed to create their second and a new identity that united the plurality into a nation. This is the national identity, called Indonesia. Unfortunately, before Indonesia was created in 1945, there was no such an entity called Indonesia. It has no precedence in the history. Indonesia is a new phenomenon created in 1945 by the people who have had their own (primordial) identities. The word Indonesia itself is not found in the vocabularies of those identities.[2]
(11) As a new nation, the people of Indonesia have no problem with their primordial identity. They know exactly the meanings of becoming and behaving as a Javanese or a Batakers, etc. They were born with those identities. The problem arises to the people of Indonesia with their second identity, i.e. Indonesian identity. Since Indonesia is a newly created term and has no cultural meanings, the Indonesia people have to struggle with this problem.
(12) It is about the emptiness of their second identity that Indonesia is struggling until their present history. Since national identity is an empty concept, the people of Indonesia try to fill it with their primordial identities. Sukarno mentioned at least three great ideals trying to fill the gap. They are nationalism, Islamism and Marxism.[3] The nationalism comes from traditional Javanese culture believing that because Javanese culture is strong ancient and rich culture, it can serve as a good national identity, especially since the Javanese are the majority among various ethnic groups who created Indonesia. This especially supported by those who identified themselves with the Budi Utomo movement, a traditional movement among Javanese scholars early 20th century in East Indies later on becomes Indonesia. Islam the political ideals of Islam that was supported by several Islamic movements following Budi Utomo. They believe that since the majority of the Indonesian people are Muslims, then Islam should be logically the national identity of the nation. Marxism later on becomes Socialism is especially supported by those who have had their Western education believing that a modern state should be based upon the ideals of equality, justice, and democratic principles.
(13) Upon this strain, Sukarno proposed a solution on June 1, 1945 in his address in the Preparatory Body of Investigation of Indonesian Independence created by the Japanese rulers. The solution is the Pancasila (Five Principles). The principles he proposed are nationalism, internationalism, democracy, social welfare and lordship.[4] What Sukarno did was actually an accommodation to those three ideals. The principle of nationalism is a mean to extend the traditional Javanism into new nationalism, which includes all people who are now making Indonesia. The principles of internationalism, democracy and social welfare derived from the socialistic/marxistic ideals. Lordship meanwhile is an extension like nationalism from a limited Islam to include other religions as well since the Indonesian people embrace not just Islam, but other religions as well.
(14) Sukarno’s Pancasila later on was modified by a small group of nine members of the body into TheLordship, with the obligations to carry out Islamic law to its adherents; A just and civilized humanity; Indonesian Unity; Peoplehood guided by the spirit of wisdom in (the forms) deliberation and representations; Social Justice to all Indonesian people.[5] This formulation of the Pancasila is called the Pancasila of Jakarta Charter.[6]
(15) A day after the proclamation of Indonesian independence, on August 18, 1945 when the Preparatory Committee for Indonesian Independence met, amendments was made to the Pancasila modified by the small group of nine members because there were objections from the Christian leaders of Eastern part of Indonesia because the clause with the obligations to carry out Islamic law to its adherents from the Jakarta Charter is discriminatory.[7]
(16) The amendments made to the draft of the 1945 Constitution include several important items.[8]
1. The clause with the obligations to carry out Islamic law to its adherents from the Jakarta Charter is omitted. The new formulation of the first principle becomes the Oneness Lordship.
2. Article6 (1:) President must be an indigenous Indonesian. The clause who embraces an Islamic Religion was omitted.
3. Article 29 (1): The state is based by the principles of Oneness Lordship.
4. Third paragraph: The word Allah had been replaced by the word Tuhan.
(17) The consequences of the amendments are all Indonesians are qualified to become the president regardless of his/her religious background. This is an inclusive-transformative religiosity of Indonesia. Inclusive because it accepts the people of Indonesia as they are with their religious backgrounds and ways of life. Transformative because it is open to be transformed in that encounter.[9]
(18) This religiosity which centers at the word Tuhan instead of the word Allah gives an open opportunity to develop an equal humanity among the Indonesian people. It can be described at the chart below.
In the chart, the Absolute is perceived by the Indonesian people as Tuhan culturally. This is different culturally to the Islamic tradition, Christian tradition and other religious tradition, including the indigenous tradition of Torajans with their indigenous religion called Aluk Ta’dolo.[10]
(19) The consequences of this religiosity is enormous. All Indonesians are equal in the perspectives of the Absolute and the Indonesian constitution. This is a unique civilization, compared to the civilizations of the original place of those religions. Good examples can be mentioned to this civilization. In the history of Indonesia, there was Leimena, an Ambonese and a Christian, served as an acting president of the country during Sukarno’s presidency. In a country where Islam and the Javanese are two majorities, being able to have someone like Leimena to be appointed acting president is indeed an indication of a great civilization. So was with the appointment of Megawati Sukarnoputri, a woman to the office of the president.
(20) The Pancasila of Indonesia with its religiosity is in accordance with Hans Kung’s global responsibilities and the declaration of the parliament of World Religions in 1993 in Chicago.[11] Two main ideas of Kungs’s global responsibilities are no survival without a world ethic and there should be a minimum consensus between believers and non-believers. The Pancasila as Sukarno puts it include both believers and non-believers (socialist-marxists). Its religiosity creates human equity that qualifies Parliament of World’s Religions Global Ethic’s fundamental demand, every human being must be treated humanely. Including to this is its four irrevocable directives:
Commitment to a culture of non-violence and respect for life
Commitment to a culture of solidarity and a just economic order
Commitment to a culture of tolerance and a life of truthfulness
Commitment to a culture of equal rights and partnership between men and women
(21) The tensions between religious groups in Indonesia recently and the tendency to implement certain religious ideas into the nation state reflecting the pre-Indonesian era. This has been solved properly by the founders of the nation in 1945. If there is any hope for the people of Indonesia to avoid this kind of tension, is no other than just going back to the fundamentals of this nation-state. Recent amendments made to the 1945 Constitution had diverted Indonesia from its tolerant identity.
Bibliography
Bahar, Saafroedin, Ananda B. Kusuma, Nannie Hudawati. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995.
Cobb Jr, John B. Transforming Christianity and the World: A Way beyond Absolutism and Relativism. Edited and Introduced by Paul F. Knitter. Maryknoll New York: Orbis Books, 1999.
Eka Darmaputera. Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society. Leiden: E. J. Brill, 1988.
Hatta, Mohammad. Memoir. Jakarta: Tintamas Indonesia, 1979.
Hick, John. God Has Many Names. Philadelphia: Westminster Press, 1992.
Küng, Hans and Karl-Josef Kuschel (ed). A Global Ethic: The Declaration of the Parliament of the World’s Religions. New York: Continuum, 1993.
Küng, Hans. Global Responsibility: In Search of a New World Ethic. New York: Crossroad, 1991.
Reid, Anthony. ‘Indonesia: From Briefcase to Samurai Sword,’ in Alfred W. McCoy (ed), Southeast Asia Under Japanese Occupation. Monograph Series No. 22, Yale University Southeast Asia Studies, 1980.
Sukarno, Nationalism, Islam and Marxism. Translated by Karel H. Warouw and Peter D. Weldon with an introduction by Ruth T. McVey. Cornel University Modern Indonesian Project, Publication No. 48, 1984.
Thomas, M.M. ‘Asian Countries Responding to Secularization’ unpublished paper of CCA Seminar On Secularization in Asia, in Manila 1996.
[1] M. M. Thomas, ‘Asian Countries Responding to Secularization.’ unpublished paper of CCA Seminar On Secularization in Asia, in Manila 1996.
[2] The word Indonesia comes from the word Indunesians by English ethnologist Windsor Earl and later on by a German anthropologist Adolf Bastian. Cf, Eka Darmaputera, Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society (Leiden: E. J. Brill, 1988), 32.
[3] Sukarno, Nationalism, Islam and Marxism. Translated by Karel H. Warouw and Peter D. Weldon with an introduction by Ruth T. McVey. Cornel University Modern Indonesian Project, Publication No. 48, 1984.
[4] Saafroedin Bahar, Ananda B. Kusuma, Nannie Hudawati. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945 (Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995), 63-84.
[7] Mohammad Hatta, Memoir(Jakarta: Tintamas Indonesia, 1979), 458-9. Cf. Anthony Reid, ‘Indonesia: From Briefcase to Samurai Sword,’ in Alfred W. McCoy (ed), Southeast Asia Under Japanese Occupation (Monograph Series No. 22, Yale University Southeast Asia Studies, 1980), 17, 23.
[8] Safroedin Bahar (et al), Risalah . . ., 412-420.
[9]John B. Cobb Jr., Transforming Christianity and the World: A Way Beyond Absolutism and Relativism. Edited and Introduced by Paul F. Knitter. (Maryknoll New York: Orbis Books, 1999), 45.
[10]In John Hick’s term this is cultural phenomena. Cf. John Hick,God Has Many Names (Philadelphia: Westminster Press, 1992), 53.
[11]Hans Kung, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic(New York: Crossroad, 1991), 36-40, and Hans Kung and Karl-Josef Kuschel (ed). A Global Ethic: The Declaration of the Parliament of the World’s Religions (New York: Continuum, 1993), 21-36.
Indonesian Muslim community epitomizes a case of exceptional uniqueness. In spite of being designated as the world's largest Muslim community, Indonesia is not an Islamic State. Such condition came up because the founding fathers of this republic -the majority of whom were good and prominent Muslim- did not choose Islam as the foundation of the state. Rather, they chose Pancasila as state philosophical foundation and at the same time as the guideline in establishing the state's political power. Certainly, such a choice was not made without reason nor was an easy thing to do.
Historical record has expressly displayed and born clear witness to the fact that the debate of our the founding fathers had torn the group into two severely opposing poles: the nationalists and the Islamists was aggravatingly bitter and tough. The former advocated Pancasila, and the latter wanted Indonesia to be based on the Islamic Ideology. Such heated debate occurred in meetings prior to or in the wake of the Independence Proclamation, especially in the sessions held in the Parliament in the year of 1945.
The choice of Pancasila as the foundation on which the state and nation life is based witnesses the victory of nationalistic Muslims. This fact also proves that since the onset Muslim key figures have put into account the importance of maintaining pluralistic and democratic value in shared life as nation in Indonesia. The choice made is very realistic.
There are at least two reasons. First, Indonesia is the home to people of great ethnic diversity, with their respective distinct culture and language, inhabiting thousands of islands in the Nusantara Archipelago, spreading from Sumatera in the western to Papua in the most eastern part. An emerging democratic country, Indonesia has often experienced conflicts between ethnic and religious groups, such as in Aceh, Ambon and Papua. This is inconsistent with unity in diversity as cited in the Pancasila.
Second, since long time ago communities inhabiting the Nusantara Archipelago have been known as religious communities who are willing to accept the arrival of religions originating from outside Nusantara, such as Christian, Islam, Buddhism, and Hinduism. The logical consequence of this inclusiveness and of great tolerance, Indonesian society is highly diversified, adhering to different religions, not only to those aforementioned big religions but also to the hundreds of local religions which are generally beyond public cognizance.
This fact of pluralism shall always be manifested and may not be negated in the life of the state and nation. Also, the active roles played by Muslim leading figures, especially those of the founding fathers in embodying peaceful, tranquil, inclusive and pluralism-respecting Indonesia shall always be
born in mind and disseminated. These two ideas are of considerable usefulness and can serve as the inspiration-generator for the efforts to foster peace, justice, and humanity in Indonesia.
Pancasila as the common ground to overcoming prejudice
Pancasila is the formulation of cultural values and widely practiced in different races and various religious communities in Indonesia. Those values also reflect the universal teachings of various religions adopted by Indonesian people. Pancasila consists of five principles, namely Belief in One Supreme God, Just and civilized Humanitarianisms, Nationalism (unity of Indonesia), People sovereignty, and Social justice for all Indonesian people.
This signifies that although the designation of Pancasila was not popular until the days prior to the Indonesian Independence, the cultural values engraved in those live principles have long been recognized, such as theological divine value, humanitarianism, unity, democracy, wisdom, togetherness, and justice, Those are universal cultural values taught by all religions, not to the exception, by the local religions prevailing in Nusantara since the time of the past. Therefore, it can be said that Pancasila is the common ground for different religious communities to cooperate and promote justice and human dignity in the Indonesian society.
Thereafter. based on Pancasila, the founding fathers prepared the Indonesian constitution. This constitution has been amended four times. et the regulation concerning religion as stipulated in Article 29 of the 1945 Constitution has remained the same. The articles reads : The state is based on the Belief in One Supreme God (2) The State guarantees the freedom of each of its citizen to embrace their respective religion and to perform religious duties in accordance with their respective religion and belief. The provision of the article expressly indicates that Indonesia state comprehensively guarantees the religious freedom to its citizens.
The thing worth underlining here is that Indonesian Muslim eminent leaders hold inclusive, moderate and tolerant disposition. They are of the belief that the importance of maintaining harmonious togetherness as a nation. as well as the significance of upholding human dignity and esteem regardless differences of religion; and the importance of enforcing human basic rights, especially the rights of religious freedom for all civilian including the minority and vulnerable groups.
The endeavors made by the Muslim community to establish strong and solid civil society by upholding democracy, reinforcing human rights and promoting justice, including in it the gender justice, have become more apparent. The strong indication towards this tendency was made clear by the advent of a number of legislations und public policies, such as Act Number 39 of 1999 on Human Rights. As far as religious life is concerned- this Act lays down (in Article 22) :( I) Every individual is given a free choice for embracing his or her own religion and belief and for performing his or her duties in compliance with the religion or belief adhered to. (2) The state guarantees followers of any religion or belief with freedom to observe and perform religious duties in accordance with his or her religion or belief.
In addition, the commitment upheld by Indonesia has become stronger by the birth of Act Number 12 of 2005 on the Ratification of International Covenants concerning civil-political rights stipulated therein the assertion of freedom of advocating any belief.
At the level of policy and legislation, the guarantee granted by the state for the freedom of advocating any belief in Indonesia is sufficiently adequate. The problem lies in the practical level or law enforcement. Law enforcement on all policies is to very considerable extent influenced by the socio-political situation and condition of the government within a certain period of time. Should the central government adopt strong and firm measure in the application of the laws, then the implementation on all public policies will go as desired. On the other hand, if the central government adopts weak and infirm disposition, the implementation of various laws will meet with barrier and handicap.
In addition, other matters which have often hampered the enforcement of democracy, fulfillment of human rights. and promotion of justice in Indonesia, have been currently related to the economic and political gaps. The failure of the government in realizing the social welfare and in improving the intellectual life of the nation are the strong reason for certain Islamist groups to resort to committing destructive, vandalistic acts. The Community's desperate poverty and ignorance have often been exploited in such a way by certain groups for the pursuit of their own interest and that of their group.
It is this very unfortunate condition which is alleged to have given birth to radical Muslim groups. The advent of radical Muslim is much influenced by a wide variety of factors, among others, by the failure of the government to embody the welfare of the society, especially in the fulfillment of public facility services. such as education and health. In the mind of this radical group the best and most appropriate solution to step away from the prevailing problem is to bring Islamic state into reality. Establishing Islamic State is considered is the only most appropriate solution which can bring the nation towards betterment.
A number of religions-related conflicts and acts of violence prevailing in Indonesia are in essence not theological in nature rather they are economic- political in characteristics. To put firmly.
those conflicts are the reflections of widespread discontent and negative reaction demonstrated by the members of lower bracket of society towards the social gap and economic-political marginalization looming large ahead of them. From religious perspective, this condition is right. Aren't the biggest enemies of religion is injustice in the form of poverty, backwardness, ignorance, narrow mindedness?
Therefore, all religions are descended to the earth with the primary aim of providing solution to those varied humanitarian problems. Those religious foes and enemies shall be terminated so as not to bring about the disaster of greater magnitude and multitude to the life of the society. Poverty and ignorance have made it easier to bring the member of less fortunate and underprivileged society to keep away from religion. Community's poverty and ignorance will fall the easiest prey of certain groups from which they will take great advantage. Religious communities are always exploited in such a way that they may fight with one another and inter-religious conflicts will arise accordingly. Due to the fact that it is religion that proves to be the most effective conflict-triggering feed.
To prevent conflict and prejudice among people from different religions, tolerant, inclusive attitude must be always enhanced and disseminated. This is what has been carried out by Muslims majority in Indonesia. especially those who are grouped in the two biggest Islamic organization in Indonesia; Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. The main missions of the two organizations are promoting Islamic teachings which compatible with democracy, human rights, and also disseminating tolerance, inclusiveness and harmony. Those among prominent figures of NU and Muhammadiyah who are well known of their severe criticism in upholding human rights, and pluralism of religion are Wahid Hasyim, Abdurrahman Wahid, Hasyim Muzadi, Ahmad Syafi'i Maarif, Dawarn Rahardjo, Abdul Munir Mulkhan, Amin Abdullah, and Moeslim Abdurrahman
Besides that, there are a number of Muslim intellectuals and thinkers who actively teach pluralistic teaching of Islam such as Mukti Ali, Harun Nasution, Munawir Sadzali, Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Quraisy Shihab. These lslamic prominent figures have grown seed of rational, critical, and humanitarian Islamic thought through various universities, especially IAIN and other private universities throughout Indonesia. It is through this education institution, that Indonesian Muslim community can cultivate qualified leaders which subsequently will promote friendly Islamic teachings which are also accommodative to humanitarian values.
The important role of Islamic organizations in overcoming prejudice
Every religion, no matter which it is, has four dimensions. The first is the spiritual dimension. The second is the ritual dimension. The third is the social dimension. The fourth is the humanistic dimension. Concerning the first dimension, spirituality is the relationship between an individual with their God. Spirituality is also very private, and can not be interfered with by others, except with a sense of awareness. It can not be forced on someone or be brought about through deception. Spirituality represents everyone's right to bond with the Almighty.
Meanwhile, the ritual dimension usually has two aspects. First, the relationship between the individual and the Almighty, and at the same time, secondly, is to develop a conducive personality through noble acts. So there are worldly and spiritual elements. Regarding the social dimension, every religion consists of the same subject matter, but differs in the strategy and form used in supporting said subject matter. All religions desire a peaceful safe, prosperous, and equitable society. It is only the strategy to achieve this prosperity which is different. So, between spirituality and rituals, a healthy and synergetic social element must be forged. This is like a pyramid structure. If healthy and synergetic social relations are not established, what we have is a pyramid turned on its head. All religions are almost the same with regards to human issues such as justice, honesty, compassion, commendation etc.
Indonesia has a long history, because before Islamization began in Indonesia, there were Hindus and Buddhists in this country. The process of moving from Hinduism and Buddhism to Islam did not take place through war, but through acculturation. Due to this process of acculturation 90% of Indonesians came to be Muslims. without any wars taking place. This is proof that the process of acculturation is a healthy one. For example, there was a kingdom in Demak. At that time, this kingdom was led by Raden Patah and the legislative head was Sunan Kudus. As there were many Hindus in that area. the government prohibited Muslims from slaughtering cows during Idul Adha, and ordered buffalos to be used instead. This was based on the fact that Imam Syafi'I allowed cows to he replaced with buffalos in the slaughter. This was done to avoid offending Hindus since cows are sacred for them.
This acculturation process worked so well that Indonesia has become the largest Muslim nation in the world in a cultural sense, and also the majority of Muslims in Indonesia do not desire the formalization of religion at the nation state level, but rather the implementation of religion at the civil society level. As a result of this, 87% of Indonesian Muslims do not wish to formalize Islam, and instead consider it sufficient to accept Pancasila state based on the 1945 constitution.
An interesting phenomenon from Muslim religious community in Indonesia is the presence of Muslim progressive or reformist groups. The groups came from the Islamic organizations, such as NU and Muhammadiyah. From NU they are Lalapesdam NU, Fatayat NU, Jaringan Islam Liberal (JIL). Meanwhile from Muhammadiyah. they are known as Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Besides that, there are many NGOs who voice the importance of democracy, Human Right and peace on behalf of Islam such as ICRP. ICIP, Wahid Institute, LSIK, LSAF, LKIS, LP3S, Paramadina. Fahmina. LKAJ, and Desantara. The most prestigious thing that Progressive Islamic Group have done are the effort of reinterpreting religion teachings, despite the fact that the attempt of this group have often got many oppositions and resistances from traditional groups or the groups who maintain conservative Islamic values who are not accommodative to the reality of pluralism and modernity of Indonesia.
In many cases ICRP demands the government to eliminate all regulations and public policies which are discriminative, causing the ignorance of civil rights of people as a citizen, and causing the snatching of human rights of the people. Muslim prominent figures grouping in ICRP always promote obedience with civil rights of all citizens and obedience of human rights without taking account of religion. ethnic, nationality, gender differences. Therefore religion indeed becomes source of peace.
Besides. the endeavors to establish democracy in the perspective of gender equality are put as priority to carry out by Indonesian Muslim women. They are among others, associated in Islamic Women organizations and NGO's, such as Fatayat NU, Muslimat NU, Rahima, Puan Amal Hayati and Nasyiatul Aisyiyah. These organizations are actively carried out training and advocacy for people, especially women. These Institutes also train their cadres to born women activist and thinkers who are progressive, inclusive and highlighted. There are also numbers of Muslim women activists and intellectuals who are actively voicing democracy and gender equality in bureaucratic state institution and parliaments.
At the same time, there are also Muslim Women lawyers who are active in foundations providing legal aid such as LBH APIK, KPI etc. They are actively carrying out advocacy and flanking to women and various religion subjected to discriminations, exploitations and harassments, including harassment on behalf of religion.
Among the important contribution of the Indonesian Muslim women have got in line with their efforts of establishing democracy, human dignity. and gender equality in the Indonesian society is a proposal of an amendment of marriage law. In 2004, the women's group had proposed a bill of amendment to the Compilation of Islamic Law well known as the Counter Legal Draft (CLD) of the Compilation. The important stipulation proposed in the CLD is that regarding the allowance of inter-religious marriage. In the current Compilation. inter-religious marriage is prohibited, so the couple who performed inter-religious marriage can not registered their marriage in the office of Civil Registration.
What is then the role of Muslim women in peace building? In order to make peace in the midst of pluralism challenges and potentials tot- conflicts among religious believers, there is no other option for Muslim women rather than to play a role as mediators for dialog in society and dialog in life. Such dialogs will at least be very useful in overcoming prejudice, settling practical and actual problems that become a common issue. For example, a more appropriate relationship between religion and the State, the rights of religious minorities, poverty, problems arising from inter-religion marriages, a more appropriate approach to the spreading of religion, und actualization of religious values in education. It is the responsibility of religious leaders, including women religious leaders, to formulate a theology that is able to create a life of faith within the context of religious pluralism. In this respect, the holy Qur'an has, since long time before, affirmed the need for the spirit of mutual respect in order to attain a harmonious religious life.
Hope for the Future
All these generally hopeful developments do not mean that everything is fine on the religious frontline. There are for instance administrative regions that try to introduce Shariah law. There are people instigating hate towards other religions. Small children at school may be thought, during religious instruction, not to have contact with the other. There are regions in Indonesia where it is virtually impossible to build a church, even when there clearly is a big Christian community.
But things like this are to be expected. The decisive fact is that in a country with a Muslim majority of more than 85% not only is there a high degree of religious freedom, but Pancasila principle that citizens of all religions enjoy the same human and civil rights and duties - meaning that Islam does not demand special treatment - has been accepted by the whole mainstream Muslim community. The fact that the two biggest and highly influential and respected Muslim organizations have declared the introduction of the Shariah into state law as not fitting for Indonesia is a telling point. Thus here we have an outstanding example of how Islam handles plurality. Indonesian Islam has, in fact, accepted pluralism. There is also another remarkable development. Indonesia is still confronted by grave problems. In this difficult situation, and in the face of ongoing violence in parts of the country the leaders of the two big Muslim organizations Nadlatul Ulama and Muhammadiyah have shown that they perceive their position in Indonesian society - we could say, as main players in Indonesian civil society -- as one of responsibility - for the welfare of the country, including the other, non-Muslim communities. Thus they publicly take positions in order to stabilize and internally pacify the country. At a time where the Government sometimes seems as a loss as to how to tackle Indonesia's problems. Islamic intellectuals and spiritual and political leaders take a national non-sectarian point of view. As if, as the majority, they feel responsible that the country stays together peacefully and that the smaller groups can feel safe and free. In other words, they show a sense of responsibility for the fate of the nation. Thus, in Indonesia, Islam has, in fact, in growing measure contributed positively to the peaceful, democratic development of the plural Indonesian nation.
Recommendation and solution
It can be concluded that the Muslim community in Indonesia is very unique. Indonesian as it is Muslim community is intensely influenced by local culture which is very tolerant, open, inclusive as well as respectful to the humanity. Indonesian Muslim community is very different from those of other areas, especially Middle East. Indonesian Muslim community has long experience of living together - side by side -- with people with different religions, different faith. The founding fathers of this country are very respectful for humanity and actively in efforts to overcoming prejudice and campaigning justice and peace.
Finally, as recommendation, the writer herewith request all religion followers all over the worlds to build synergy, hand in hand. work together to straighten democracy, strengthen civil society by promoting values of religion which teaches humanity and encourage human dignity. Those are religions that are accommodative to the values of humanity, friendly for women, religion that side with the powerless and minority, the religion that really promise salvation, peace and happiness for all people.
Now, what should be done by all people as the important contribution for peace building can be patterned in three actions :
Firstly, there must be implementation of cultural reconstruction through education in its wide sense, from education in family to formal education in school, and then also non formal education in society. These efforts are needed to be implemented because culture of love, peace, respect, tolerant and inclusive cannot emerge naturally and spontaneously in society, instead it must be arranged in such way through education system. To reduce prejudice behavior in society, children must be taught to embrace multiculturalism. Studies in multicultural development claim that bias is learned in childhood. Education is a means to a harmonious intercultural society. Multicultural education can shield people from the negative effects of globalization. 1 believe that the implementation of multicultural education will be very useful for a diverse country like Indonesia. Seeondly, there must be revision of some laws and public policies which are not conducive to the establishment of peace and justice as well as the upholding of Human Rights. Thirdly, we have to propose a new religious interpretation which is more conducive for promoting justice, security and upholding human rights. Those are the real religious teachings which are free human being from tyrannical, hatred and narrow-minded. That is the teaching which in Islamic terminology, is called rahmatan lil 'alamin, which is fill of love to all creatures.
BIBLIOGRAPHY
Al-Asymawi. Muhammad Sa'id. Against Islamic Extermism: the writings of Muhammad Sa'id Al-Ashmawy. Florida: University Press of' Florida. 1998.
Anderson, Benedict. Imagined Community: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London-New York: Verso. 1983.
Anwar, M. Syafi'I Anwar. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik Tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru. Jakarta: Paramadina, 1995.
Barton, Greg, Indonesia Islam and The Emergence of Radical Jihadi Islamism
Effendi. Bahtiar. "Islam Politik Pasca Soeharto Di Indonesia" Refleksi 5, 2: 2003.
Esposito, John L. The Islam Threat; Myth or Realitly. New York: Oxford University Press, 1992. Liddle. R. William. "Indonesian's Unexpected Failure of Leadership." Schwarz Adam and Jonathan
Paris (eds). The Politics of Post Suharto Indonesia. New York: Council on Foreign Relations
Press. 1999.
Madjid, Nurcholish. "Potential Islamic Doctrinal Resources for the Establishment and Appreciation of the Modern Concept of Civil Society" in Islam und Civil Society in Southeast Asia. Edited by Nakamura et.al. Singapore: ISCAS.2001.
Mulia. Siti Musdah, Negara Islam: Pemikiran Politik Husain Haikal. Paramadina, Jakarta, 2000.
. Islam Menggugat Poligami. Gramedia. Jakarta, 2004.
. Perempuan dan Politik, Gramedia. Jakarta, 2005
, Muslimah Reformis, Mizan, Bandung, 2005
, Perbaruan Hukum Islam: Counter Legal Draft KHI. Departemen Agama, Tim Pengarusutamaan Gender. Jakarta, 2004 (naskah belum dipublikasikan).
Mujani. Saipul, and R. William Liddle, "Politics. Islam, and Public Opinion, " Journal of Democracy, 15. 1: Jan. 2004.
Zada, Khamami. Islam Radikal: Pergulatan Ormas-Ormas Islam Garis Keras di Indonesia. Jakarta: Teraju, 2002.
Tidak bisa dipungkiri banyak orang menerjemahkan atau memaknai talenta sebagai bakat. Atau mungkin bisa jadi kita mengikutinya dan menganggap bakat itu bawaan dari lahir, bahkan ada yg menyebutnya sebagai turunan. Benarkah demikian? Bagaimana kalau seseorang pemain musik yang hebat disebut sebagai orang yang sangat berbakat di bidang musik. Bagaimana dengan pencopet? Benarkah mereka berbakat sebagai copet? Benarkah bakat mencopet itu bawaan dari lahir? Atau turunan dari orang tuanya?
Kalau saya mencoba merenungkan, saya lebih memandang bakat itu sebagai kecakapan, dan kecakapan dapat diperoleh dengan belajar dan berlatih. Pemain musik itu pasti belajar dan berlatih dengan tekun & ulet sehingga bisa bermain musik dengan baik. Jika bakat itu bawaan lahir, seharusnya pemain musik itu sudah harus bisa main musik sejak lahir. Di sini yang perlu digarisbawahi adalah ketekunan & keuletan. Inilah yg menentukan keberhasilan proses belajar dan berlatih kita. Tanpa ketekunan & keuletan, kita tidak akan pernah bisa menggali potensi diri kita sendiri dan mengaktualisasikannya menjadi suatu hal yang berguna, baik bagi kita sendiri mau pun bagi orang banyak(orang lain).
Saya secara pribadi tidak memandang bakat sama halnya dengan talenta. Tuhan memberikan talenta bagi manusia. Dan saya mengartikannya sebagai kesempatan dalam mengaktualisasikan diri kita, tentu dengan bakat kita. Dan hendaknya talenta [kesempatan aktualisasi diri] ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya karena kita harus mempertanggungjawabkannya pada Tuhan. Bukankah orang yang tidak mengembangkan talenta dan tidak menjadikan berguna/berarti bagi dirinyasendiri maupunorang lain berarti menolak mengembangkan talenta.
Berani mengubah Kelemahan menjadi Kekuatan…
Sebenarnya kalau kita mau jujur, banyak dari kita yang tidak mengetahui apa sebenarnya bakat dan kekuatan kita, maka Marcus Buckingham dan Donal O.Clifton, Ph.D dalam bukunya yang berjudul: “Now, Discover Your Strengths” (2002)menyimpulkan kunci utama keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan adalah dengan mendayagunakan kekuatan, bukan dengan mengoreksi atau mengatasi kekurangan dan kelemahan. Maka langkah awalnya, temukan dan kenali kekuatan dalam diri kita.
Ada cerita dari sebuah buku bagaimana mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Amerika menggunakan peluang dan kesempatan. Dikisahkan lampu di sebuah gudang tua mati, maka anak Amerika akan mengambil senter dan masuk untuk mengetahui penyebabnya sedang anak Indonesia justru tidak beranjak dari tempat, takut jangan-jangan ada setan atau sejenisnya. Mengapa demikian? Menurut buku itu, karena perbedaan kultur. Kultur Indonesia menurut dia tidak merangsang orang untuk kreatif. Di sekolah, kantor, rumah, masyarakat, orang tidak diberi kebebasan untuk mengekspresikan apa yang dimiliki. Dalam benaknya selalu muncul, “jangan-jangan nanti salah, jangan-jangan nanti dimarahin, jangan-jangan ada pocong” dan seterusnya. Dengan demikian kita tidak mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak jika berpola pikir seperti di atas. Hal itui kian diperburuk lagi oleh pandangan bahwa melakukan kesalahan itu aib. Maka orangtua, teman, dan guru, seperti mesin pengingat saja yang terus membayangi agar kita jangan membuat kesalahan dalam hidup. Implikasinya seseorang diliputi keragu-raguan dalam bertindak. Energinya dihabiskan untuk menjaga supaya tidak melakukan kesalahan. Atau kalau ada kesalahan, energinya dipakai memperbaiki kesalahannya. “Jadi, seumur hidup dia hanya fokus bagaimana mengatasi kekurangan, kelemahan, yang ada dalam dirinya. Padahal mengembangkan talenta itu kan sebuah proses “trial and error”. Memang, di mana saja berada, kultur kita telanjur melihat kelemahan, bukan melihat potensi-potensi terbaik di dalam diri. Maka di sekolah, tempat kerja, kita diajari untuk menganalisa dan mengatasi kelemahan supaya jadi kuat. Banyak pendidikan dan pelatihan diadakan supaya orang tampil sempurna tanpa cela.Menurut dua penulis Amerikadi atas, hal itu tidak salah. Hanya saja potensi atau kekuatan terbaik kita tidak keluar maksimal. Karena seseorang dengan perspektif “melihat kelemahan” akan berbeda dengan perspektif “melihat kekuatan”. Dengan mengenali kekuatan, kita dapat memaksimalkan untuk mencapai sasaran dan cita-cita kita. Jangan fokus pada kelemahan-kelemahan kita, namun sebaliknya kita harus fokus pada kekuatan. Kekuatanlahyang harus kita kembangkan.
Gabungan Bakat-Pengetahuan dan Keterampilan…..
Dalam permenungan,talenta merupakan suatu gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Maka dari itu ketika kita mampu mengembangkan talenta, kita telah mengembangkaan kekuatan dan kelebihan kita. Tergantung bagaimana kita mengolah kombinasi antara bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Kalau bakat adalah pola pikir, perasaan, atau perilaku alami yang kita miliki, maka pengetahuan adalah fakta-fakta dan pelajaran kita pelajari dalam hidup. Ketrampilan adalah langkah-langkah yang kita kuasai karena kita melatihnya secara terus menerus. Sebagai contoh: seorang yang memiliki bakat di bidang musik, ia menulis dan belajar komposisi, berlatih terus secara konsisten minimal 6 jam sehari lebih dari sepuluh tahun, dan senantiasa fokus pada hal tersebut, dapat dipastikan dia akan menjadi musisi yang terkenal. Kalau talenta adalah sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita,maka pengetahuan dan ketrampilan adalah aspek kekuatan yang dapat ditambah, diperbaiki, dan ditingkatkan.
Ada seorang pakar pendidikan menyoroti dua jenis pengetahuan: pengetahuan faktual dan pengetahuan berdasarkan pengalaman. Ketrampilan merupakan pengetahuan eksperensial yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus secara terstruktur sehingga membentuk kebiasaan baru seseorang. Maka gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan adalah kekuatan yang membuat kita menjadi yang terbaik. Menurut permenungan saya pribadi, orang bukan tidak punya talenta, tetapi apakah talenta itu sudah dikembangkan atau tidak? Sebagai orang Katolik kita diundang untuk mengembangkan anugerah Tuhan secara maksimal. Maka kalau kita ingin mengembangkan talenta hingga maksimal, kita mesti ingat supaya terus fokus pada kekuatan, terus-menerus merefleksikan impian, dan kerja keras mengembangkannya. Saya menjadi semakin yakin Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang sebagai tanggung jawab dengan tujuan yang khusus. Kita punya tanggung jawab untuk menggunakan talenta tersebut sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk kita, talenta tersebut juga dapat digunakan untuk menolong orang lain. Sayangnya, tak banyak memang orang yang selama hidupnya mampu mengembangkan ragam talenta yang ia miliki. Tapi bukan berarti tidak bisa. Satu talenta, dua talenta, sepuluh talenta, menurut saya ya sama aja. Yang penting, kita dapat memanfaatkan secara maksimal talenta tersebut. Maka menjadi sangat penting dalam hidup kita, saya masih terus menggali talenta apa yang Tuhan berikan.
Pesan Sabda Tuhan hari ini……
Seorang hamba yang dipercaya dengan satu talenta menyimpan deposito itu dengan aman di tempat yang tersembunyi. Dia takut menggunakannya, karena dia tahu bahwa tuannya akan meminta talenta itu pada waktu dia kembali. Karena itu, ketakutan sangat mengalahkan kasih, kepercayaan, dan iman. Ketakutan menjadi penghalang untuk berkembang dalam hidupnya.
Kita sebagai orang Kristiani diajak untuk menaruh kesetiaan di dalam segala hal agar menuai buah-buah yang berlimpah. Hanya orang yang berbuah tidak mempedulikan dirinya sendiri dan kepentingannya, karenaapapun yang dia miliki adalah milik Tuhan, dan apapun yang dia kerjakan adalah untuk Tuhan. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa bahwa setiap hamba telah menerima karunia, "masing-masing menurut kemampuannya." Yesus mengetahui kemampuan setiap orang beriman, dan Dia mengharapkan suatu perkembangan. Pengajaran dasar dari perumpamaan tentang talenta adalah bahwa setiap orang beriman menerima anugerah Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda menurut kemampuannya, dan bahwa karunia-karunia ini harus digunakan untuk melayani Allah. Di dalam Kerajaan Allah setiap orang diharapkan untuk menggunakan sepenuhnya karunia-karunia yang sudah dia terima. Di dalam Kerajaan Allah tidak ada tempat bagi pemalas - hanya ada tempat bagi pekerja-pekerja yang giat, yakni para pekerja yang mau “ajer-ajur” menghasilkan buah yang berlimpah. "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya" (Mat. 25:29). Tuhan ajarilah kami berdoa: “Tuhan jadikanlah hidup kami berbuah dan berkembang demi kemuliaan Nama-Mu”.AMIN
(Sumber: RD. @dam Soen di Buletin Paroki St. Albertus "Nuansa Kasih", Minggu 16 November 2008)
[bbc.com 11/04/08]Para pemuka Muslim dan Vatikan melakukan pembicaraan bersejarah di Roma sebagai upaya untuk menjalin dialog antar agama yang lebih baik.
Pertemuan 3 hari di Roma itu dihadiri oleh 50 pemuka agama dari kedua belah pihak.
Delegasi Islam antara lain diwakili oleh pemimpin ulama Bosnia, Mustafa Ceric, sedangkan kubu Vatikan dipimpin oleh Kardinal Jean Louis Tauran.
Dari Indonesia, ikut hadir Ketua Umum Muhamadiyah, Din Syamsudin.
Kepada wartawan BBC Siaran Indonesia, Rohmatin Bonasir, Din Syamsudin mengatakan lewat telepon bahwa forum ini merupakan pertemuan pertama antara umat Muslim dan Katolik.
"Forum ini berusaha untuk mencari titik temu antar kedua agama yang tentu nanti akan diaktuliasi ke dalam penanggulangan masalah-masalah dunia," kata Din Syamsudin.
Peningkatan Dialog
Hubungan antara Katolik dan Islam sempat memburuk setelah pidato Paus Benediktus XVI tahun 2006 yang mengaitkan muslim dengan kekerasan dimasa lalu.
Pidato itu meningkatkan kemarahan di kalangan umat Islam dunia dan sempat memancing kekerasan di beberapa negara.
Insiden itu juga mendorong beberapa pemuka Islam dunia menyampaikan seruan kepada Paus untuk mendorong dialog antar agama yang lebih besar.
Manifesto itu kini sudah ditanda-tangani oleh lebih dari 250 pemuka Islam dari seluruh dunia.
Menurut mereka protes atas pidato Paus dan juga pemuatan kartun Nabi Muhammad di sebuah koran Denmark bisa dicegah jika para pemuka Islam dan Kristen punya satu.
Pertemuan di Roma ini membuka babak baru dalam sejarah panjang dialog kedua agama.
Wartawan BBC di Roma, David Willey, mengatakan bahwa Vatikan amat berniat untuk bertukar pikiran dengan umat Islam.
Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada.
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1. Di tengah sukacita Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, marilah kita melantunkan mazmur syukur ke hadirat Allah. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Ia telah merubuhkan tembok pemisah dan membangun persekutuan baru, yang kukuh dan tangguh, yang bersumber dan berakar di dalam diri-Nya (bdk. Ef. 2:14, dst.). Peristiwa Natal, sebab itu dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam keadaan dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri.
Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam kerukunan dan kedamaian. Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai. Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman. Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai.
Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan afiliasi politik. Rasa aman itu membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Dengan rasa aman itu seluruh warga negara dapat menjalin relasi tanpa merasa terancam, tertekan, atau dikucilkan. Memang banyak usaha positif untuk menciptakan perdamaian telah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Namun, usaha ini belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal dan masih harus terus dilakukan secara terarah, berencana dan berkualitas.
2. Dalam suasana hari raya Natal, kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk mendengarkan nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma. Ia menasihati Jemaat untuk hidup dalam damai dengan semua orang. Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk memberkati sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm. 12:14). Memberkati berarti memohon agar Allah melimpahkan kasih karunia, damai sejahtera dan perlindungan (bdk. Kej. 27:27-29; Ul. 33; 1Sam. 2:20). Nasihat Rasul Paulus ini menggemakan kembali ajaran Yesus: "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (Luk. 6:27-28; Mat. 5:44). Agar Jemaat dapat hidup dalam damai dengan sesama, Rasul Paulus mengajak Jemaat untuk bersukacita dengan orang yang besukacita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm. 12:14; bdk. Mat. 5:3; Luk. 6:20; Mat. 25:31-46).
Ia juga menasihati Jemaat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan apa yang baik bagi semua orang (bdk. Rm. 12:17). "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rm. 12:21). Ketika orang membalas kejahatan dengan kejahatan, sebenarnya orang itu telah dikalahkan oleh kejahatan. Siapa yang melakukan kejahatan, ia telah dikendalikan oleh kejahatan itu sendiri dan telah melakukan kejahatan yang ia lawan. Ketika orang mengalami perlakuan jahat dari orang lain, tidak perlu membenci pelakunya dan menolak berhubungan dengannya, tetapi tetap ramah terhadapnya, bahkan terbuka untuk menolong orang itu bila ia mengalami kesulitan. Selayaknya umat Kristiani memperlakukan orang lain dengan kemurahan hati (bdk.Rm. 12:20a).
3. Semangat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Roma itu kiranya juga menjadi semangat umat Kristiani di Indonesia, yang hidup dalam masyarakat majemuk yang terus berubah. Dinafasi oleh semangat Natal, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk:
•a. melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum dalam mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama. Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat perlu dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan dengan cara-cara dialog.
•b. ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing, serta peka dan tetap berusaha ramah terhadap lingkungan sekitar.
•c. mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan jangan sampai dikalahkan oleh kejahatan. Kita perlu menyadari bahwa musuh kita bukanlah sesama warga, melainkan kejahatan yang bisa menggerakkan orang untuk berlaku jahat dan menyakiti sesama. Maka, marilah kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya supaya jangan ada ruang dimana kejahatan dapat merajalela.
Demikianlah pesan kami, Selamat Natal 2008 dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2009. Tuhan memberkati.
aNDa Mau melihat dan Ngebaca Artikel/ Opini/ Humor/ Cerita/ Puisi/ Renungan/ Sharing/ Konsultasi, dll?
Klik aja apa yang menjadi pilihan AndA di Blog Archive.
PeRjumPAan...oh perJUMpAan...ENtaH leWat aPa sAja...LeWAt taTaPAan mAtAnya....LEwAt seNtuHan tANgaNnya... LeWAt kaTa-kAtAnya...LeW@t tUlis@nnya......LeW@t d@n lEw@t.... BiARlah KIsi-kiSI sEtiAP keHiDUPan @da aRTinya...BIArlah pERnik-perNIKk reLUng h@ti ad@ maKNanya...
SeGaL@ SeSuATU aD@ WakTuNy@
Ada waktu untuk lahir-meninggal; untuk menanam-mencabut yang ditanam; untuk menyakiti-menyembuhkan; untuk merombak-membangun; untuk bekerja-istirahat; untuk menangis-tertawa; untuk meratap-menari; untuk memeluk-menahan diri dari memeluk; untuk mencari untung-membiarkan rugi; untuk menyimpan-membuang; untuk merobek-menjahit; untuk berdiam diri-berbicara; untuk mengasihi- membenci; untuk perang-damai.
SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA.....
HIDUP ANDA JUGA ADA WAKTUNYA.....
HIDUP ANDA INDAH
seCERcAH HidUp SejuTa MakNa.... Hidup itu memang indah... Indah kalau boleh sejenak kita memaknai... Memaknai dengan hati dan jiwa... Hati dan jiwa yang bening... Bening bagaikan air yang memancarkan kesegaran... Kesegaran yang tiada habisnya... Selami dan selami... Hidup itu indah... HIDUP ANDA SUDAH INDAH?
Cerita Kecil Kapan Allah Tertawa
Rama Krishna, seorang mistik India biasa berkata:
Allah tertawa dalam dua kesempatan. Ia tertawa kalau mendengar seorang dokter berkata kepada seorang ibu, "Jangan takut. Anak itu akan saya sembuhkan." Allah berkata kepada dirinya sendiri, "Saya merencanakan untuk mengambil hidup anak ini, tetapi orang ini berpikir bahwa ia dapat menyelamatkannya!"
Ia juga tertawa kalau Ia melihat dua orang bersaudara membagikan tanah mereka, menandainya dengan garis dan berkata, "Sisi ini adalah milikku dan sisa lain adalah milikmu. "Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Jagad ini adalah milik saya dan mereka merasa berhak menjadi pemilik atas bagian-bagiannya!"
Ketika orang-orang datang untuk memberitahukan kepadanya bahwa rumahnya telah hanyut oleh banjir, ia tertawa dan berkata, "Tidak mungkin! Kunci rumah itu ada di sakuku!"
Mulyadi (MATAKIN), Daniel (PGI), Rm. Adam (HAK), Pdt. Erick (PGI), sejenak nyantai di Pantai Sungai Liat Bangka
Fr. Adam, KH. Sholeh B, Mr. Dirk, Mrs. Antjce, Mr. Volker, Miss. Krist
Para Finalis Puteri Fatayat Kota Malang di Gereja St. Albertus
Dr. Amin (Dekan Fak. Ushuludin & Fils. UIN Syarif Hidayatulah-Jkt), Mulyadi (MATAKIN), Daniel (PGI), Rm. Adam (HAK), Pdt. Erick (PGI), H. Abbas (MUI Pusat) lagi berpose di Pantai - Bangka
Kebersamaan Persaudaraan Sejati
COMMENT REUNI, march 1 th 2007
Life ends when u stop dreaming. Hope is lost when u stop believing. Love fails when u stop caring. God cares n never fails. Keep in fighting with God.have nice week end for u all, Friends! Yesterday was such wonderful meeting. I enjoyed n loved it! Ciao, shirley.